Halaman

Welcome Guys

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Hari Guru

Written By Unknown on Rabu, 07 November 2012 | 00.48


Kado Untuk Sang Guru


mengajarDua hari menjelang Hari Guru tanggal 25 November lalu, anak saya yang baru duduk di bangku kelas I SD meminta agar dibelikan ‘sesuatu barang’  untuk diberikan kepada guru kelasnya yang baru saja melahirkan anak pertama sebagai kado di Hari Guru.
Menurut pengakuan anak saya, mereka sekelas, bahkan seluruh murid dari kelas I sampai VI diminta salah seorang guru untuk menyampaikan pesan kepada orang tua masing-masing agar pada saat Hari Guru, ‘seikhlasnya’ memberikan ’kado’ berupa apa saja kepada guru-gurunya terutama guru kelasnya.
Bagi saya dan istri saya, permintaan guru tersebut tidaklah memberatkan dan tidak ada yang aneh. Menurut saya ‘permintaan’ yang lebih pas disebut sebagai ‘anjuran’ itu sah-sah saja. Mungkin itulah cara guru-guru di sekolah itu mendidik murid-muridnya agar menghargai dan mencintai guru-gurunya.
Istri saya yang kebetulan juga berprofesi guru, tanpa banyak tanya langsung mengiyakan permintaan si anak. Saya pun maklum saja karena mungkin dorongan empatinya yang tinggi terhadap sesama profesi guru meski beda sekolah.
Hari itu juga anak saya dibawa ke sebuah toko swalayan yang tak jauh dari rumah kemudian membelikan seperangkat perlengkapan popok bayi untuk nantinya diberikan kepada sang guru kelas anak saya sebagai  kado di Hari Guru. Tentu saja sebelum diberikan, kado itu dikemas rapi dengan kertas dan pita yang menarik.
Di hari yang sama, seorang ibu mengeluh karena anaknya yang duduk di bangku kelas V di SD yang berbeda dengan anak saya, terus ‘merengek’ minta dibuatkan ‘kue tar’. Katanya, kue tersebut akan diberikan kepada guru-gurunya pada saat Hari Guru sesuai ‘permintaan khusus’ guru kelasnya.
Padahal menurut ibu tersebut, sekitar tiga minggu lalu pihak sekolah telah mengutip uang sebesar Rp.15 ribu per murid dari kelas I sampai VI. Uang tersebut katanya untuk membeli bakal baju batik sebagai ‘hadiah’ dari murid yang akan dipakai seluruh guru di sekolah anaknya saat Hari Guru tiba.
Si ibu sebenarnya keberatan dengan pengutipan uang tersebut. Sebab menurutnya kebijakan pihak sekolah meminta ‘hadiah’ tapi kesannya ‘memaksa’ adalah sesuatu yang aneh dan sangat tidak bijak.
Sebagai orang tua murid, si ibu merasa adanya surat dari pimpinan sekolah yang disetujui dan ditandatangani Ketua Komite Sekolah, telah memaksanya untuk suka atau tidak suka, wajib memenuhi permintaan kutipan uang tersebut.
Hatinya sebenarnya berontak, tapi dia tak kuasa untuk menentang kebijakan sekolah yang menurutnya sepihak itu. Dia juga tak habis pikir, kenapa Komite Sekolah yang katanya perwakilan dari para orang tua murid, tidak punya empati terhadap sesama orang tua murid seperti dirinya.   
Nah, kemarin malam, istri saya dengan wajah sumringah menunjukkan sebuah tas plastik kresek hitam yang katanya berisi hadiah dari siswa-siswanya yang diterimanya hari itu sebagai kado di Hari Guru.
Tetapi saat seluruh isi tas plastik hitam tersebut dikeluarkan, saya langsung tertawa terpingkal-pingkal. Karena ternyata isinya macam-macam; ada sabun cuci, sabun mandi, odol, sikat gigi,   buku agama, pulpen, dan beberapa buah bross, dan dua helai jilbab.
Adapula beberapa mainan anak-anak. Tentu saja hadiah berupa mainan ini bukan untuk istri saya, tapi untuk anak saya laki-laki yang paling kecil. Anak laki-laki saya tersebut memang sesekali diajak istri saya ke sekolah bila jadwal mengajarnya tidak terlalu ketat atau saat ada kegiatan, tapi tak ada jadwal mengajar di sekolahnya.
Sebenarnya kado yang diterima istri saya di Hari Guru bukan baru pertama kali ini, tapi sejak dia menjadi guru beberapa tahun silam. Bukan cuma istri saya, semua guru di sekolahnya, bahkan barangkali di hampir semua sekolah mulai SD hingga SMU atau sederajat mendapat ‘kado’ dari anak-anak didiknya di Hari Guru.
Menurut istri saya, semua hadiah yang diterimanya hari itu bukan dia minta. Tapi sudah seperti ‘tradisi’ di sekolahnya setiap merayakan Hari Guru. Dan menurutnya, tidak semua anak didik di sekolahnya memberi hadiah kepada guru-gurunya, karena pihak sekolah pun tak pernah menganjurkan, apalagi mewajibkannya.
Bukan bermaksud mengecilkan, sebenarnya, bukan kado seperti itu yang diinginkan para  guru kita terlebih seperti istri saya yang berpenghasilan tak seberapa karena cuma guru sekolah swasta. Mereka  hanya mengharapkan ‘kado istimewa’ itu dari pemerintah berupa perhatian lebih untuk membantu meningkatkan kesejahteraan mereka. Sehingga kelangsungan nasib mereka ke depan, meski tak harus menjadi seorang guru berstatus PNS, bisa lebih baik dan terjamin. “Pak Guru, Bu Guru…Selamat Hari Guru…”.***  



00.48 | 0 komentar | Read More

jendela hati

Written By Unknown on Sabtu, 03 November 2012 | 21.50


Mengajar dan Belajar dengan Hati

Judul diatas mungkin bagi sebagian kalangan tampak berlebihan, atau mungkin juga dinilai sepele. Namun, paling tidak...lima kata itulah berhasil mengubah kehidupan keseharian saya sebagai dosen – yang semula merupakan hari-hari yang menegangkan, menjadi hari-hari yang menyenangkan sekaligus mengharukan. Mungkin catatan kecil ini dapat menjadi inspirasi bagi sebagian rekan yang mengalami hal serupa.

Pada saat-saat awal belajar menjadi pengajar, saya berusaha menerapkan prinsip-prinsip dan etika akademik yang pernah saya pelajari. Disiplin pribadi, ketepatan dan semangat dalam pengerjaan setiap tugas, berani menghadapi tantangan (seberat apapun), kesatria (tidak mundur sebelum perang ditempuh), jujur, terbuka terhadap kritik, dan sikap-sikap lain yang mendukung keberhasilan siswa dalam hidupnya.

Hingga sewindu pertama, strategi tersebut relatif masih ampuh; meskipun saya dinilai sebagai dosen yang galak. Siswa yang terlambat hadir atau terlambat mengumpulkan tugas, sudah pasti akan mendapatkan sanksi. Siswa yang ikut asistensi tanpa memperlihatkan kemajuan sesuai dengan yang diminta, tidak lepas dari teguran (tentu saja ditujukan untuk menyemangati yang bersangkutan). Paling tidak, hingga saat itu prinsip-prinsip tersebut menurut saya berhasil mendorong sebagian besar mahasiswa lulus dengan hasil yang baik (bahkan sangat baik). Tentu saja, sebagian besar mahasiswa baru menyadari mereka lulus.

Sejak sekitar tahun 2000an, saya merasakan perubahan karakter mahasiswa secara mendasar. Dalam rapat-rapat staf di prodi pun, muncul berbagai keluhan dari hampir seluruh dosen. Sebagian besar menggarisbawahi kondisi mahasiswa yang kurang disiplin, daya juang yang lemah, tidak tekun, tidak dapat mengelola diri dan waktu, serta sikap lain yang diperlukan bagi siswa yang mandiri.

Sebagian besar prinsip yang saya yakini sejak kecil dan telah diterapkan selama sekitar 10 tahun, mulai saat itu tampak tidak berlaku. Berbagai peristiwa datang silih berganti yang justru menjadi bumerang. Saya terlihat menjadi berlebihan, dinilai bersikap terlalu keras, cerewet, dan mencapaipuncaknya ketika saya merasa tidak match lagi dengan situasi ini. 4 (empat) kali saya berpikir untuk mengundurkan diri dari ITB...

Kegalauan hati selama lebih dari sewindu, pada suatu ketika berubah HANYA dengan mengubah sebuah premis


Semula saya selalu berpikir; mahasiswa SEHARUSNYA sudah memiliki sikap ini dan itu, saat ini saya melihat fakta APA ADANYA dan berusaha membawa mereka pada sikap-sikap yang tetap saya yakini sebagai sebuah sikap yang perlu ditanamkan (seperti telah dijelaskan dimuka). Saya menyadari, bahwa situasi global dunia yang sudah berubah, sangat berpengaruh terhadap alam bawah sadar mereka (juga kita). Dunia yang serba instan, serba cepat, serba di permukaan, serta virtual, dan bahkan mungkin suatu ketika akan melewati batas-batas ambangnya...

Saat itu, hati sya yang semula MEMPERTANYAKAN, baru sadar... dan berubah menjadi perasaan iba dengan situasi yang dialami mahasiswa saat ini. Situasi dan keseharian yang mereka jalani jauh lebih kompleks. Kehidupan keseharian yang mereka hadapi juga pasti sudah membuat mereka bingung jika tanpa bimbingan. Kita harus berempati terlebih dahulu terhadap kondisi mereka (yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya) dan berusaha menjadi pendengar yang baik sert memberikan ruang lebih banyak untuk kesabaran.

Pernahkah kita menduga, satu kritik pedas bisa membuat mahasiswa pindah prodi bahkan mengundurkan diri dari ITB? Pernahkah terbyangkan, perasaan stress karena ketika SMU selalu menjadi juara kelas dan setelah di ITB menjadi orang yang “biasa” - membuat seorang siswa menggunduli rambutnya? Yang lebih spektakuler adalah mahasiswa yang nekat hendak memotong nadinya karena tidak athu lagi untuk tujuan apa dia berada di dunia ini.

Namun sebaliknya, kita mungkin tidak juga menyangka bahwa suatu pertemuan singkat yang bermakna mampu membuat mahasiswa “lolos” dari jeratan putus sekolah. Kita bahkan mungkin tidak menyadari bahwa sebuah sapaan lembut membuat ketakutan mahasiswa lenyap saat sidang akhir yang menegangkan. Sebuah pujian bagi mahasiswa yang sedang berada di titik nadir, mungkin akan dikenang selama hidupnya. Sungguh indah dan betapa berartinya tindak tanduk dan ucapan..........sekecil apapun.

Setelah ini diterapkan, hari-hari yang semula menegangkan, kini menjadi jauh lebih dapat dinikmati. Saya justru banyak belajar dari mereka; bukan tentang substansi ilmu Arsitektur-nya, melainkan ilmu tentang kehidupan masa kini yang sudah jauh lebih kompleks...

Ketika pikiran dan hati kita MAU BERUBAH, informasi datang silih berganti; termasuk hadirnya pengetahuan-pengetahuan tentang LCE, brain-based-learning, juga film Laskar Pelangi yang menekankan pentingnya mengajar (dan belajar) dengan hati. Karena (mungkin) memang inilah jalan kita untuk berhikmat kepada semesta...

21.50 | 0 komentar | Read More