BAHAYA BEDAH TULANG BELAKANG

Written By Mentari bunda on Sabtu, 19 Januari 2013 | 19.58


Skoliosis bisa menyerang penderita dari dua sisi. Pertama, bisa menyebabkan nyeri hebat dan rasa tidak nyaman pada penderita, terutama jika terkena sejak usia muda. Ini pun bisa berarti bahwa ada penderita yang menghabiskan banyak waktu untuk berobat dan bahkan terbaring di tempat tidur karena nyeri yang tidak tertahankan.
Di samping nyeri dan tidak nyaman, juga bisa terjadi gangguan emosional dalam diri pasien. Banyak penderita skoliosis melaporkan bahwa mereka cemas akan lengkungan tulang belakang yang disebabkan oleh skoliosis, walau mungkin ukurannya minimal dalam banyak kasus. Rasa cemas ini bisa berlangsung lama, bahkan setelah masalahnya sudah dirawat dan, akhirnya, diatasi.
Salah satu aspek skoliosis yang paling mengejutkan adalah kenyataan bahwa banyak orang sangat miskin pemahamannya tentang pembedahan. Jika orang tua sangat peduli terhadap anak-anak mereka, sering mereka melihat operasi sebagai cara cepat dan simpel untuk mengatasi masalah.  Namun, operasi bisa saja sangat invasif dan sesewaktu menjadi prosedur yang agak merusak yang dapat menempatkan pasien pada keadaan yang lebih buruk daripada sebelumnya. Adalah penting untuk menyadari banyak fakta tentang pembedahan skoliosis, tanpa panik.
Jika skoliosis mula-mula didiagnosis oleh dokter, mereka sangat mahir merekomendasikan agar pasien bersabar sejenak sebelum menawarkan upaya pengobatan utama: namun, saran pembedahan acapkali muncul ketika hasil diagnosis menunjukkan kurvatur pasien semakin parah.
Sekitar 30 ribu prosedur pembedahan tulang belakang dilaksanakan tiap tahun khusus untuk skoliosis, yang seharusnya memberi Anda gagasan tentang besarnya frekuensi isu ini. Prosesnya nampak cukup sederhana, dengan batang-batang logam dipasang pada ujung atas dan ujung bawah lengkungan melalui ruas-ruas tulang belakang. Jadi, ruas tulang belakang dilebur (fusi) melalui upaya ini, yakni mengambil fragmen tulang dari pangkal paha dan kadang-kadang dari tulang belakang itu sendiri.  Fusi ini mengarah pada penyembuhan secara langsung, yang jelas merupakan hasil akhir yang diharapkan oleh dokter bedah dan orang tua.
Namun, tidak sesederhana itu.  Selama berminggu-minggu setelah operasi, banyak pasien harus memakai rungkup. Penyebabnya yakni ternyata operasi meninggalkan dampak buruk pada tubuh manusia, dan mengenakan rungkup dapat membantu mengurangi rasa nyeri sesudah pembedahan itu.
Sebagaimana pada tindakan bedah korektif, juga ada kemungkinan terjadi semacam kambuh ulang.  Apabila suatu bagian tubuh manusia mengalami koreksi buatan, tubuh harus melakukan penyesuaian terhadap koreksi ini. Sering butuh waktu lama untuk “menjadi terbiasa”, dan kadang-kadang bisa menjadi masalah yakni tubuh kembali ke posisi sebelumnya.
Hasil akhir dari komplikasi ini boleh jadi sangat tidak menyenangkan, dalam arti bahwa sejumlah besar pasien bedah skoliosis kembali ke dokter mereka dan mengeluhkan nyeri punggung lanjutan, dan malahan ada kasus yang membutuhkan perbaikan lebih lanjut oleh karena sifat invasif pembedahan.
Selain itu, diperburuk lagi dengan masalah lainnya yang terkait dengan operasi seperti infeksi dan komplikasi. Ada pasien misalnya, yang bahkan memiliki reaksi menyimpang terhadap anestesia yang digunakan selama pembedahan. Walaupun kasus-kasus seperti ini jarang terjadi, mudah untuk dilihat alasannya yakni orang harus lebih hati-hati ketika menggunakan pembedahan untuk masalah skoliosis.
Jenis pembedahan yang paling lazim digunakan di AS untuk memerangi skoliosis adalah metode bedah Batang Harrington (Harrington Rod). Ini diterapkan pada sekitar 20.000 kasus bedah yang muncul dari kondisi itu.  Ongkosnya cukup besar, sekitar $120.000 untuk menjalani prosedur bedah reguler Harrington.
Meskipun merupakan prosedur pembedahan yang paling umum di AS, penting untuk disadari bahwa prosedur ini juga menimbulkan komplikasi. Misalnya, sebuah jurnal ilmiah utama baru-baru ini menyatakan bahwa ada resiko tinggi yakni pembedahan tidak benar-benar memperbaiki lengkungan tulang belakang.  Jurnal itu juga mengklaim bahwa komplikasi jangka panjang yang timbul akibat pembedahan “sering disalahpahami”, yang sebenarnya menuntun pasien memasuki suatu situasi resiko berupa kerusakan yang tidak dapat dipulihkan pada tulang belakang mereka.
Jurnal terkemuka lainnya juga menemukan bahwa pembedahan bisa berdampak serius terhadap kesanggupan pasien menikmati kehidupan harian mereka. Ini berarti mobilitas harian sangat terbatas akibat dari pembedahan yang dilakukan. Sebuah jurnal Eropa (European Spine Journal) mengungkapkan fakta ini secara lebih jelas belakangan ini, dengan menginformasikan bahwa pasien yang menjalani pembedahan sering menderita kehilangan mobilitas tulang belakang sepenuhnya. Ini berarti cacat.
Problemnya cukup sederhana. Pasien tidak diberitahukan bahwa pembedahan untuk masalah skoliosis akan berdampak seperti ini dalam hidup mereka. Apabila sifat dampak pembedahan sedikit invasif, para pasien masih percaya, secara keseluruhan, bahwa mereka akan mengalami hanya sedikit kehilangan daya gerak, tetapi ini berdampak jangka panjang. Kemungkinan besar bukan ini letak persoalannya.
Pasien juga sering diberitahu, agak menyesatkan, bahwa pembedahan bertanggung jawab penuh atas perbaikan kurvatur yang mereka harapkan. Ternyata, pembedahan tulang belakang untuk skoliosis  dengan cara apa pun tidak efektif dalam meluruskan tulang belakang untuk jangka panjang, dan pasti tidak efektif pula untuk hasil permanen.
Jadi, jika Anda mempertimbangkan pembedahan untuk skoliosis, entah untuk diri sendiri atau untuk orang yang dicintai, jelas berguna jika Anda mengerti bahwa bedah tidak efektif untuk pelurusan lengkungan, dan malah dapat menyebabkan komplikasi lanjut yang secara efektif bisa merusak hidup Anda karena menghasilkan cacat.
 

0 komentar:

Posting Komentar